10 Juni 2003 - 11:53
EPISODE
1 :
Saat
Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi
tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu
tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya kelak
sebagai jalan pintas menuju surga.
Tekad
itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah, dan seminar
keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat
Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti "Ar
Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Faso lihatu qonitatu hafizhotu
lilghoibi bima hafizhallah..." (QS. An-Nisa ayat 34). Juga
Hadits :"Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atus sholihat."
(dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat).
Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang,
taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya. Begitu pula
hadits "Jika seorang isteri sholat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan
dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat
ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad
dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun dihafalnya, "Jika
manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah
suaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Figur
isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Khadijah r.a.
benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya. Maka,
tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang
sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam,Fulanah pun melangkah ke gerbang
pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh
untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah
tangga.
EPISODE
2
Tatkala
Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, berangan-angan, dan
bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat
yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan
seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil
ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama
isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi 'imam yang adil' yang akan memimpin dan
mengarahkan isteri dan anak-anaknya.
Alangkah
menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin,
dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah
dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT. Ia bertekad untuk mempergauli
isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW
tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. "Hanya laki-laki mulialah
yang memuliakan wanita." "Yang paling baik di antara kamu, wahai
mu'min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah
(Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku."
"Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan
manakala diluruskan secara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan
Muslim)
Fulan
pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada
isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri
seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur seperti
ucapan Rasulullah kepada Bilal : "Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan
menolong wanita di dapur." Karena Rasulullah suka bergurau dan
bermain-main dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR
Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan
panggilan lembut 'Dik' atau 'Yang'.
EPISODE-EPISODE
SELANJUTNYA
Fulan
dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi
karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam.
Waktu
pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kin banyak
hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan
kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani
oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi
bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunya perkawinan,tetapi
manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan
tak enak lagi.
Ternyata,
segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada
terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat
saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk madu,
ternyata 'brotowali' yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan
dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan
mujahidah sekalipun. Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat
untuk menyelesai- kan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laa
yughoyyiru ma biqoumi hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS
Ar-Raad : 6).
Ada
seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau
menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang mengeluh karena
dominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karena perbedaan
gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai
timbul karena ternyata suami bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotan rumah
tangga, karena beranggapan "itu khan memang tugas isteri."
Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil
dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku'
saja.
Fulan
pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yang diduganya,
bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur. Fulanah
sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal
kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat.
Seorang
sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan.
Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat.
Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan
kemampuan intelek- tual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak.
Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anak mama" yang
kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan
anak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang
masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah mereka ikut
tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial
mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.
Kadang-kadang
semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak
"tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena
terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-abreg dan mengurus
anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak menceritakan
kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri
kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan
suaminya.
Ada
suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of
humor" dan "sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada
kebaikan isteri yang dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat
kekurangan segera diutarakannya. Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang
memiliki problem "hubungan intim suami-isteri". Mereka merasa tabu
untuk membicarakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal
akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga.
Kalau
mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara
pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang,
persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti akan
berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita
menegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa
yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan-kekurangan. Dan
mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.
Pasangan
yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan
menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap
muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun
belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya
kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna
seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut
kesempurnaan dari suami atau isteri kita.
"Just
the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita
seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dan
kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan
karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-cita kita sama.
Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,"Prima", semua
perbedaan seolah sirna. Namun pada saat "ghirah" turun,iman menurun,
semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,mengganggu, dan
menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah.
Kiat
utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa
memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah" (introspeksi),
adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara
suami-isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern
dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati.
"Uneg-uneg" yang ada secara fair dan bijak diungkapkan.
Selanjutnya,
yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan
meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan tidak mendendam.
Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang
lain. Jadi tidak membongkar atau membeberkan aib dan kekurangan suami atau
isteri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membandingk-bandingkan
suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup
kita. Setelah itu,masing-masing juga perlu 'waspada' agar tidak terbiasa kikir
pujian dan royal celaan.
Jika
terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan
yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan
secara lebih jernih. Kadang-kadang "kacamata" yang kita pakai sudah
begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak
terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya
InsyaAllah akan bisa membantu menggosok 'kacamata' yang buram itu.
Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik
terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya !
Dengan
berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah
kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta
kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah
tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.
Oleh: Hamba Allah
Di postkan oleh: A._Shol
0 komentar:
Posting Komentar