04 Juli 2003 - 10:37
Arti Cinta…
Suami saya adalah seorang
insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang
hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa kenalan dan
bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus
mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan2 saya
mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.
Saya seorang wanita yang
sentimentil dan benar-2 sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan
saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan
suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan
ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan
kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya
memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan
perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya
dengan terkejut.
"Saya lelah, terlalu banyak
alasan yang ada di dunia ini", jawab saya.
Dia terdiam dan termenung
sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin
bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang saya bisa harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya,
"Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"
Seseorang berkata, 'mengubah
kepribadian orang lain sangatlah sulit' dan itu benar, saya pikir, saya mulai
kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.
Saya menatap dalam-dalam matanya
dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat
menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya.
Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu
akan melakukannya untuk saya?"
Dia berkata, " Saya akan
memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah
mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di
rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya di bawah
sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan :
Sayang, "Saya tidak akan
mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan
alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan
hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu hanya bisa mengetik di
komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di
depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya saya bisa menolong
untuk memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa
kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya
supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu."
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar
di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk
mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada
waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, saya harus memberikan
tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di dalam
rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi "aneh". Saya harus memberikan
mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk menyembuhkan
kebosananmu."
"Kamu selalu menatap
komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata
saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan
kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Saya akan memegang tanganmu,
menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah, menceritakan
warna-2 bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu."
Juga sayangku, saya begitu yakin
ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Saya tidak akan
mengambil bunga itu lalu mati."
Air mata saya jatuh ke atas
tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali.
"Dan sekarang sayangku kamu
telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan
susu segar dan roti kesukaanmu?"
Saya segera membuka pintu dan
melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.
Oh, saya percaya, tidak ada orang
yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus
melupakan "bunga" itu sendiri.
Itulah hidup, atau boleh
dikatakan, cinta, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan
itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang
berada diantara kedamaian dan kesepian.
Cinta menunjukkan berbagai macam
bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak
punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui.
Bunga, saat-saat yang romantis
hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati
berdiri dan itulah kehidupan kita.
Oleh:
Hamba Allah
Dipostkan
oleh: A._Shol
0 komentar:
Posting Komentar